Tampilkan postingan dengan label JAWA BARAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAWA BARAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2012

MENCARI SEJARAH SUNDA DENGAN DUA PERAHU

SUDAH sejak tahun 1950-an orang Sunda gelisah dengan
sejarahnya. Lebih-lebih generasi sekarang, mereka selalu
mempertanyakan, betulkah sejarah Sunda seperti yang diceritakan
orang-orang tua mereka? Katanya, kekuasaannya membentang sejak Kali
Cipamali di timur terus ke barat pada daerah yang disebut sekarang
Jawa Barat dengan Prabu Siliwangi sebagai salah seorang rajanya
yang bijaksana. Betulkah?
     Sejarah Sunda memang tidak banyak berbicara dalam percaturan
sejarah nasional. "Yang diajarkan di sekolah, paling hanya tiga
kalimat," kata Dr Edi Sukardi Ekadjati, peneliti, sejarawan dan
Kepala Museum Asia Afrika di Bandung. Isinya singkat saja hanya
mengungkap tentang Kerajaan Sunda dengan Raja Sri Baduga di daerah
yang sekarang disebut Jawa Barat, lalu runtuh.
     Padahal, kerajaan dengan corak animistis dan hinduistis  ini
sudah  berdiri sejak abad ke-8 Masehi dan berakhir  eksistensinya
menjelang abad ke-16 Masehi. Kisah-kisahnya yang begitu panjang,
lebih banyak diketahui melalui cerita lisan sehingga sulit
ditelusuri jejak sejarahnya. Tetapi ini tidak berarti, nenek moyang
orang Sunda di masa lalu tidak meninggalkan sesuatu yang bisa
dilacak oleh anak cucunya karena kecakapan tulis-menulis di wilayah
Sunda sudah diketahui sejak abad ke-5 Masehi. Ini bisa dibuktikan
dengan prasasti-prasasti di masa itu.
     Memang  peninggalan  karya tulis berupa naskah di  masa  itu
hingga  kini belum dijumpai. Tetapi setelah itu ditemukan  naskah
kuno  dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno, yakni  naskah  Sanghyang
Siksa  Kanda  Ng Karesian yang selesai disusun tahun 1518  M  dan
naskah Carita Bujangga Manik yang dibuat akhir abad ke-15 atau awal
abad ke-16. Suhamir, arsitek yang menaruh minat besar dalam sejarah
Sunda menjuluki naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian sebagai

PESONA JAWA BARAT

Secara umum kondisi alam Provinsi Jawa Barat terdiri atas dua bagian yaitu kawasan pantai yang terletak di bagian utara yang merupakan dataran  endah dengan iklim pantai yang panas dan kawasan pegunungan yang  meliputi sebagaian besar bagian tengah dan selatan yang berudara sejuk serta  memiliki  kawasan pertanian yang subur. Pada kawasan pegunungan itu erdapat beberapa gunung vulkanis yang sebagian diantaranya terletak di sekitar Bandung, ibukota Provinsi Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat dikenal sebagai orang Sunda dan sebagian dari mereka bekerja sebagai petani yang tinggal di daerah pertanian yang berada di lembah lembah pegunungan yang subur menghijau. Jawa Barat memiliki tradisi dan budaya Sunda yang menarik, daerah ini memiliki banyak peninggalan sejarah. Namun selain kebudayaan dan  peninggalan sejarah, Jawa Barat juga memiliki obyek wisata alam yang indah yang terdapat di kawasan pegunungan dan pantainya.

BOGOR

Pada masa kolonial Belanda, Bogor yang terletak 60 Km di selatan Jakarta adalah salah satu daerah peristirahatan penting bagi para pejabat Belanda. Gubernur.Jenderal Van Imhoff membuka kawasan perkebunan bernama Buitenzorg di Bogorpada tahun 1745 dan kemudian Bogor berkembang menjadi daerah peristirahatan yang disukai banyak pejabat Belanda.
Bogor yang terletak pada ketinggian 290 meter dari permukaan laut memang memiliki udara yang sedikit lebih teduh dari Jakarta, selain itu pada musim hujan
Bogor merupakan salah satu kota yang paling basah di Indonesia dengan tingkat curah hujan tertinggi di Jawa yang membuat kota ini dijuluki sebagai ‘kota hujan’.

Kebun Raya Bogor

Tidak ada tempat yang paling terkenal dan paling menarik di Bogor selain Kebun Raya Bogor. Kebun yang sangat luas ini terletak di tengah kota Bogor yang berada di atas lahan seluas 87 hektar. Pada akhir pekan atau hari libur kawasan kebun raya selalu ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah. Pengunjung yang memasuki Kebun Raya akan merasakan kontras antara suasana hiruk pikuk kota Bogor dengan ketenangan kebun ditengah kehijauan pepohonan rindang yang memberikan keteduhan.
Gubernur Jenderal Raffles disebut-sebut orang yang pertama kali menggagas pembukaan kebun raya, namun seorang ahli botani dari Jerman Professor C.G.C Reinwardt adalah orang yang pertama kali mengubah halaman luas Istana Bogor menjadi kebun yang digunakan untuk meneliti tumbuh-tumbuhan yang kemudian menjadi Kebun Raya Bogor dan dibuka resmi untuk umum pada 18 Mei1817.
Kebun Raya memiliki koleksi lebih dari 15.000 spesies pohon dan tanamtanaman termasuk 400 macam pohon palem. Kebun ini juga dihiasi dengan kolam air dengan tanaman teratai dan sungai kecil. Rumah anggrek yang terdapat di kebun raya ini memiliki koleksi lebih dari 300 varietas tanaman anggrek.

Istana Bogor

Istana yang terletak di sebelah timur laut kebun raya dulu merupakan tempat tinggal resmi dari gubernur jenderal Belanda yang berkuasa dari tahun 1870 hingga 1942. Istana ini dulunya merupakan rumah peristirahatan yang dibangun pada tahun 1745 ketika Belanda pertama kali membuka daerah perkebunan disini, namun rumah itu hancur karena gempa bumi dan sebuah istana baru didirikan di tempat ini beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 1856. Para petinggi dan anggota masyarakat elit Belanda sering berkunjung ke kebun raya. Pesta-pesta besar dan glamor sering diadakan di Istana Bogor. Halaman istana yang luas dijadikan tempat memelihara rusa yang akan segera dipotong dan menjadi hidangan eksklusif pada perjamuan yang diadakan di istana. Hingga saat ini tradisi memilihara rusa di halaman istana tetap dipertahankan.
Pada tahun 1950, status Istana Bogor berubah menjadi istana Kepresidenan RI, Istana

Raja-raja Pajajaran

1. Sri Baduga Maharaja
Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (RatuJayadewata) yang memerintah selama 39 thaun (1482 – 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.
Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar PRABU GURU DEWAPRANATA. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya (Susuktunggal). Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI di PAKUAN PAJAJARAN SRI SANG RATU DEWATA. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah “sepi” selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat.
Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama PRABU SILIWANGI. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis: “Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira” (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).
Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan RATU JAPURA (AMUK MURUGUL) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi. {Tentang hal ini, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja): “Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa. Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda”}
Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta (penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara) menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di bubat, sedangkan penggantinya (“silih”nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, menurut naskah Wastu kancana disebut juga PRABU WANGSISUTAH). Orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah “seuweu” Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat?. Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasan Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus “langsung” dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar MAHARAJA (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).
Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai “silih” (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). “Silih” dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.
Proses kepindahan isteri Ratu Pakuan (Sri Baduga) ke Pakuan terekam oleh pujangga bernama KAI RAGA di Gunung Srimanganti (Sikuray). Naskahnya ditulis dalam gaya pantun dan dinamai CARITA RATU PAKUAN (diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18).
Naskah itu dapat ditemukan pada Kropak 410 . Isinya adalah sebagai berikut (hanya terjemahannya saja):

Tersebutlah Ngabetkasih
bersama madu-madunya
bergerak payung lebesaran melintas tugu
yang seia dan sekata
hendak pulang ke Pakuan
kembali dari keraton di timur
halaman cahaya putih induk permata
cahaya datar namanya
keraton berseri emas permata
rumah berukir lukisan alun
di Sanghiyang Pandan-larang
keraton penenang hidup.

Bergerak barisan depan disusul yang kemudian
teduh dalam ikatan dijunjung
bakul kue dengan tutup yang diukir
kotak jati bersudut bulatan emas
tempat sirih nampan perak
bertiang gading ukiran telapak gajah
hendak dibawa ke Pakuan

Bergerak tandu kencana
beratap cemara gading
bertiang emas
bernama lingkaran langit
berpuncak permata indah
ditatahkan pada watang yang bercungap

Singa-singaan di sebelah kiri-kanan
payung hijau bertiang gading
berpuncak getas yang bertiang
berpuncak emas
dan payung saberilen
berumbai potongan benang
tapok terongnya emas berlekuk
berayun panjang langkahnya
terkedip sambil menoleh
ibarat semut, rukun dengan saudaranya
tingkahnya seperti semut beralih
Bergerak seperti pematang cahaya melayang-layang
berlenggang di awang-awang
pembawa gendi di belakang
pembawa kandaga di depan
dan ayam-ayaman emas kiri-kanan
kidang-kidangan emas di tengah
siapa diusun di singa barong

Bergerak yang di depan, menyusul yang kemudian barisan yang lain lagi

Yang dikisahkan dalam pantun itu adalah Ngabetkasih (Ambetkasih), isteri Sri BAduga yang pertama (puteri Ki Gedng Sindang Kasih, putera Wastu Kancana ketiga dari Mayangsari). Ia pindah dari keraton timur (Galuh) ke Pakuan bersama isteri-isteri Sri Baduga yang lain.
Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan

PENJELASAN PRASASTI HULU DAYEUH

Sejarah Jawa Barat hingga kini memang masih agak gelap, bila
dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Oleh karena itu
setiap temuan arkeologi dari Jawa Barat senantiasa mengundang
perhatian dan rasa penasaran para pakar kebudayaan yang menggumuli
masalah sejarah Sunda (Jawa Barat).
     Untuk itu saya mengemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan
Prasasti Hulu Dayeuy yang diungkapkan oleh Bapak Muchtar MS (Kepala
Seksi Kebudayaan, Kndep Dikbud Cirebon) kepada wartawan yang telah
dimuat beberapa waktu lalu dalam Kompas, Selasa 31 Desember
1991 (pada halaman 12, kolom 1-3).
     Prasasti Hulu Dayeuh tersebut bukan berasal dari (Predu)
Ratudewata, tetapi kemungkinan ada hubungannya dengan Jayadewata
(Raja Pakwan-Pajajaran abad ke-15 Masehi). Raja ini sama dengan Sri
Baduga Maharaja atau Raden pamanah Rasa alias Sang Udubasu di dlam
Carita Parahiyangan, sesuai dengan yang disebutkan dalam rasasti
Hulu Dayeuy itu sendiri (baris ke-11). Tetapi belum berarti bahwa

SEJARAH ANJUNGAN JAWA BARAT

-          KEBERADAAN ANJUNGAN JAWA BARAT TMII
Pemerintah membangun Anjungan Jawa Barat TMII untuk memperkenalkan potensi daerah Jawa Barat kepada seluruh masyarakat Indonesiawisata
-          STRUKTUR BANGUNAN TRADISIONAL
Memasuki halaman Balai Pengelolaan Anjungan Jawa Barat TMII dapat dilihat sebuah Eye Catcher, yang menampilkan lambang Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan 2 buah kujang, yakni senjata tradisional Jawa Barat.
Selain bangunan inti terdapat pula contoh rumah tradisional yang berbentuk rumah panggung dengan dinding bilik/gede yang dilengkapi dengan peralatan rumah tangga yang terbuat dari bambu.
Di bagian lainnya terdapat sebuah kolam air terjun dengan panorama Tangkuban Perahu dan pesawahan mini yang menggambarkan keindahan alam Jawa Barat. Untuk pementasan kesenian tradisional Jawa Barat khusus dibangun sebuah panggung kesenian.
Bangunan Balai Pengelolaan Anjungan Jawa Barat di TMII merupakan replika dari bangunan  keraton Kasepuhan Cirebon. Model ini diabadikan sebagai data otentik baik bangunannya maupun seni budayanya yang mempunyai latar belakang sejarah.
Sesuai dengan bangunan aslinya bangunan Balai Pengelolan Anjungan Jawa Barat di TMII terdiri dari beberapa bangunan yang kini dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan berbagai aspek budaya Jawa Barat, antara lain :
  1. Bangunan Inti, yang terdiri dari :
-       Ruang Jinem Pangrawit / Pendopo di gunakan sebagai tempat berkumpul para ponggawa dan prajurit yang sedang bertugas, fungsi seksrang sebagai pementasan kesenian musik ilustrasi dan berbagai kegiatan pameran peragaan kerajinan
-       Ruang/Bangsal Pringgodani, sebagai tempat Sultan mengadakan pertemuan dengan para stafnya, fungsi sekarang sebagai tempat pameran kerajinan dari Jawa Barat dan digunakan pula untuk latihan kesenian.
-       Ruang/Bangsal Prabayaksa sebagai tempat Sultan menerima tamu penting, fungsi sekarang sebagai tempat pameran kerajinan se Jawa Barat, pakaian tradisional Jawa Barat serta tempat aat musik tradisional (Gamelan)
-       Ruang/Bangsal Panembahan, ruangan ini tempat Sultan bekerja dan beristirahat di siang hari, ruangan ini ditata sesuai dengan asli Cirebon.
  1. Ajeng, bangunan yang terletak paling depan. Digunakan sebagai tempat penyajian kesenian untuk menyambut tamu-tamu penting, fungsi sekarang sebagai tempat penyajian musik selamat datang
  2. Lunjuk, bangunan ini digunakan para tamu untuk melapor kedatangannya dengan berbagai keperluan di keraton,  fungsi sekarang sebagai kantor dinas kepala Anjungan
  3. Srimenganti, bangunan inimerupakan ruang tunggu, digunakan untuk para tamu menunggu kesempatan menyelesaikan segala kepentingannya dan tempat Sultan menyaksikan berbagai kegiatan adapun fungsi sekarang sebsgsi tempat kegiatan administrasi Tata Usaha
  4. Langgar Alit, bangunan ini adalah ruang tempat beribadah, digunakan sebagai kegiatan keagamaan oleh kelurga sultan adapun fungsi sekarang sebagai tempat sembahyangpara pengunjung
  5. Jinem Arum, ruang pertemuan. Bangunan ini dipergunakan oleh keluarga untuk mengadakan pertemuan kekuarga sultan adapun fungsi sekarang sebagai kantin yang menyajikan   berbagai makanan khas Jaw Barat
  6. Kaputren, bangunan ini dipergunakan sebagai tempat tinggal putri sultan, sekarang berfungsi sebagai ruang audiovisual dan perpustakaan
  7. Kaputran, banguna ini diperguanakan sebagai tempat para putra sultan adapun sekarang dipergunakan

Jumat, 06 Januari 2012

RATU KALINYAMAT : RATU JEPARA YANG PEMBERANI

Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian "gagah berani" seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang seorang wanita yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa. Di samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).
Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang penting peranannya pada abad ke-16. Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia menjadi tokoh sentral yang  menentukan dalam pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah  putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.
Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka. Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa. Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).
Uraian singkat di bawah ini akan menjelaskan tentang :
1.         Siapakah tokoh Ratu Kalinyamat?
2.         Bagaimana riwayat hidup Ratu Kalinyamat?
3.         Bagaimana peranan Ratu Kalinyamat dalam sejarah Indonesia sehingga ia dipandang sebagai tokoh yang besar jasanya bagi bangsa Indonesia?

B. SIAPA TOKOH RATU KALINYAMAT?
Sejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama  Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa. Dalam  sejarah dinasti Demak, tokoh Ratu Kalinyamat mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu mengalami kemerosotan akibat konflik perebutan tahta. Popularitasnya jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangeran Hadiri,  bahkan Sultan Prawata, raja Demak ke empat.
Ratu Kalinyamat adalah putri Pangeran Trenggana dan cucu Raden Patah, sultan Demak yang pertama.Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Retna Kencana yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.  Retna Kencana kemudian  tampil sebagai tokoh sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan Demak. Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi  yang diperhitungkan sama dengan 10 April 1549. Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz menyebutkan bahwa Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.