Tampilkan postingan dengan label JAWA TIMUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAWA TIMUR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2012

REOG PONOROGO

Melihat gerak yang ditampilkan para pelaku jenis kesenian khas Ponorogo, Jawa Timur, Reog Ponorogo, terlintas kesan mistis di dalamnya.
Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan. Minuman keras dan juga kendalanya. Tak lepas pula kekuatan supra natural. Barung mempertontonkan keperkasaan dalam mengangkat dadak berat seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung.
Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, aneh, eksotis sekaligus membangkitkan gairah.
Asal Mula Reog
Sebuah buku terbitan Pemda Kabupaten Ponorogo pada tahun 1993 menyebutkan, sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit. Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada zaman kekuasaan Batera Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan. Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono. Kesenian Reog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam di sekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian reog ini. Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini.
Biasanya satu grup reog terdiri dari seorang warok tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30 orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya.
Banyak hal yang terkesan mistis dibalik kesenian Reog Ponorogo. Warok misalnya, adalah tokoh sentral dalam kesenian ini yang hingga kini menyimpan banyak hal yang cukup kontroversial. Tidak sedikit orang yang menganggap profil warok telah menimbulkan citra kurang baik atas kesenian ini.
Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian reog. Warok tua, adalah tokoh pengayom, sedangkan warok muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Kendati demikian, kehidupan warok sangat bertolak belakang dengan peran yang mereka mainkan di pentas.
Konon warok hingga saat ini dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok, seperti pendekatannya dengan minuman keras dan dunia preman.
Untuk menjadi warok, perjalanan yang cukup panjang, lama, penuh liku dan sejuta goda. Paling tidak itulah yang dituturkan tokoh Warok Ponorogo, Mbah Wo Kucing. Untuk menuju ke sana, harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.
Warok Tua, sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya.
Begitu jauh persepsi buruk atas warok, diakui mulai dihilangkan. Upaya mengembalikan citra kesenian ini dilakukan secara perlahan-lahan. Profil warok saat ini misalnya mulai diarahkan kepada nilai kepemimpinan yang positif dan menjadi panutan masyarakat. Termasuk pula memelihara gemblak yang kini semakin luntur. Gemblak yang biasa berperan sebagai penari jatilan, kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dulu-dulunya kesenian ini tampil tanpa seorang wanita pun.
Selain warok, peran pembarong atau pemanggul darak merak, dalam kesenian Reog Ponorogo, tidak bisa disepelekan. Apalagi kesenian ini nyata mengandalkan kekuatan tubuh dan atraksi akrobatiknya.
Seorang pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang

Sejarah Universitas Brawijaya


Nama Universitas Brawijaya (disingkat UB) diresmikan sebagai Universitas Negeri pada tahun 1963. Saat ini UB merupakan salah satu universitas negeri yang terkemuka di Indonesia yang mempunyai jumlah mahasiswa lebih dari 30 ribu orang dari berbagai strata mulai program Diploma, Program Sarjana, Program Magister dan Program Doktor selain Program Spesialis tersebar dalam 10 Fakultas.
Kampus UB berada di kota Malang Jawa Timur, dengan lokasi yang mudah terjangkau oleh kendaraan umum. Kampusnya sangat asri karena banyaknya pepohonan dan ditunjang oleh hawa sejuk kota Malang. Sejarah membuktikan keberadaan Kota Malang sebagai kota pendidikan tempat UB tumbuh dan berkembang pesat. Ini tidak terjadi dengan sendirinya tapi seakan merupakan proses sejarah yang tidak terpisahkan dari kejayaan Jawa Timur di masa lampau.
Nama Universitas Brawijaya diberikan oleh Presiden Republik Indonesia melalui kawat nomor 258/K/61 tanggal 11 Juli 1961. Nama ini berasal dari gelar Raja-Raja Majapahit yang merupakan kerajaan besar di Indonesia pada abad 12 sampai 15. Universitas Brawijaya dinegerikan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 196 tahun 1963 dan berlaku sejak 5 Januari 1963. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir (Dies Natalis) Universitas Brawijaya. Perjalanan Universitas Brawijaya sebelum dinegerikan diawali pada tahun 1957 di Malang berdiri cabang Universitas Sawerigading Makassar yang hanya terdiri dari dua fakultas yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Kemudian pada tanggal 1 Juli 1960 diganti namanya menjadi Universitas Kotapraja Malang. Dibawah naungan Universitas tersebut beberapa bulan berikutnya terdapat tambahan dua fakultas yaitu Fakultas Administrasi Niaga (FAN) dan Fakultas Pertanian (FP). Universitas Kotapraja Malang inilah yang kemudian diganti namanya menjadi Universitas Brawijaya.
Pada saat dinegerikan, Universitas Brawijaya hanya mempunyai 5 fakultas yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ketatanegraan dan Ketataniagaan (FKK merupakan perluasan dari FAN dan saat ini namanya adalah Fakultas Ilmu Administrasi - FIA), Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP). FKHP kemudian dipecah menjadi dua fakultas pada tahun 1973, yaitu Fakultas Peternakan (FPt) yang berada di Universitas Brawijaya dan Fakultas Kedokteran Hewan yang berada dibawah naungan Universitas Airlangga. Fakultas Teknik (FT) berdiri tahun 1963 berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP nomor 167 tahun 1963 tertanggal 23 Oktober 1963.
Berdasarkan SK Presiden Nomor 59 tahun 1982 tanggal 7 September 1982 tentang struktur organisasi Universitas Brawijaya, Fakultas Perikanan (FPi) menjadi fakultas tersendiri karena sejak

SEJARAH ORARI DAERAH JAWA TIMUR

Menulusuri perjalanan waktu , kegiatan amatir radio di Jawa Timur sudah bisa dilacak balik sampai era penjajahan Belanda , atau tepatnya zaman pemerintahan Hindia Belanda.
Tahun 1930 –an , pada masa pemerintahan Hindia Belanda ( Negerland Indies ) Amatir Radio Indonesia telah membentuk Organisasi NIVERA ( Nederlands Indische Vereniging Radio Amateurs ) , merupakan organisasi  amatir radio pertama di Indonesia , banyak amatir radio di Daerah Jawa Timur yang bergabung dengan terbukti di situs TOM ROSCOE ( K8CX ) yang menyimpan koleksi QSL Card langka dari berbagai penjuru  dunia bisa dijumpai QSL Card dari beberapa kota di Jawa Timur seperti :

·         J . H . Makking         ( PK3BQ ) dari PG. Probolinggo
·         J . A . Fickel            ( PK3CK ) dari Surabaya
·         Henry N. Spohr        ( PK3EJ )  dari East Java
·         A . J . Frommelt       ( PK3JF ) dari Surabaya
·         J .  H . Briet             ( PK3JT ) dari Wonokitri Blvd
·         L.Th.E.De Sevren Jacquet  ( PK3SJ ) dari Surabaya
·         J . J . Smith             ( PK3SM ) dari  Surabaya
Tahun 1960 –an , seperti juga di kota-kota atau daerah lain , di Surabaya dan sekitarnya sudah banyak bermuculan , tukang radio , mahasiswa elektro , operator radio / PHB , atau mereka yang berhasil merakit sendiri radio / pemancarnya .
Untuk mencoba pancarannya , biasanya pada siang hari hanya dipakai siaran hanya sekedar untuk memutar lagu-lagu saja dan pada malam harinya dipakai untuk radio chek , atau calling satu sama lain.
Salah satu diantara mereka yang masih sehat wal afiat pada saat penulisan sejarah ini adalah  Walujo Wahyudi ( YB3AH ) mahasiswa pada fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ( mendirikan Radio Aesculap di kampusnya )
Mengapa dimulai dari Surabaya ? selain merupakan ibukota Jawa Timur , di Surabaya ada Pasarturi dan Jalan Demak – yang merupakan  pasar dan gudangnya barang – barang loakan berupa komponen elektronika yang menjadi barang buruan rekan-rekan amatir radio dari Surabaya dan sekitarnya.
Jaman itu adalah merupakan suatu kebanggaan tersendiri apabila ada yang bisa mendapatkan barang  yang aneh /langkah dengan harga murah , yang kemudian bisa dimanfatkan secara optimal untuk homebrewing peralatan di studio atau ham-shack masing-masing.
Hendro Sukaton , kebetulan menemukan roksokan pemancar sisa-sisa militer Belanda di gudang pabrik gula di daerah Kediri , dengan arahan seorang montir radio ( dari Toko AS Kediri ) bersama Bambang Yudho ( YC3GLV ) roksokan mereka rakit ulang sehingga bisa memancar kembali – dan akhirnya menjadi cikal bakal kegiatan amatir radio di Kediri dan sekitarnya.
Karena merasa bukan radio milik pemerintah ( seperti RRI atau beberapa stasiun radio siaran milik pemda ) , sedangkan istilah radio siaran niaga belum dikenal – ada di antara mereka yang kemudian menyebut stasiunnya dengan istilah Radio Amatir ( RADAM ) atau radio Eksperimen ( RADEKS ) .








Adanya langkah – langkah penertiban dari pihak otoritas ( keamanan ) kemudian mendorong mereka yang mengkhususkan kegiatannya di bidang komunikasi 2-arah untuk mendaftarkan diri dan bergabung dalam organisasi amatir radio PARI ( Persatuan Amatir Radio Indonesia ) yang pembentukannya di bidani beberapa rekan seperti Soekarsono (mahasiswa ITS Elekrto ) dan Puthu Surawijaya ( YB3AE ) , para pendaftar angkatan pertama mendapatkan nama panggilan dengan prifek PK3 ( Contoh : Bambang Sudiono – PK3UAC , Bambang Soetrisno – PK3UYF , Hadiono Badjuri – PK3UGB )