Sabtu, 14 Januari 2012

TERBENTUKNYA ORGANISASI SUBAK

Subak merupakan organisasi pengairan  yang terdapat di Pulau Bali yang sampai sekarang masih dapat dilihat keberadaannya. Organisasi ini merupakan wadah bagi sekelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama akan air dalam suatu wilayah dengan aturan-aturan tertentu yang mengikatnya.Munculnya sistem irigasi ini tidak dapat dilepaskan dengan latar belakang sejarah di Pulau Jawa, khususnya sejarah Jawa Timur. Berdasarkan beberapa peninggalan prasasti yang terdapat masa kerajaan-kerajaan di jawa Timur membuktikan bahwa pertanian sawah merupakan matapencaharian yang penting. Karena itu sistem irigasi yang dimilikinya tentu sudah terorganisir dengan baik.Perpindahan penduduk karena suatu hal dari Pulau Jawa ke Bali tentu berpengaruh juga terhadap perpindahan budaya yang dimilikinya dengan berbagai konsekuensinya, termasuk sistem irigasi yang dimilikinya.Inilah yang menyebabkan semakin mepurnanya sistem irigasi di Bali yang sudah ada sebelumnya, kemudian dikenal dengan nama Subak. 

Peninggalan kebudayaan tertua dari bangsa-bangsa di dunia pada umumnya terdapat di tepi-tepi sungai (air), karena di daerah tersebut sebagai daerah yang subur. Di daerah inilah terdapat aktivitas manusia sehingga banyak diketemukan berbagai hasil kebudayaannya, seperti kebudayaan India terdapat di lembah Sungai Indus, Gangga, di Mesopotamia terdapat di Sungai Euphrat dan Tigris. di Cina terdapat di di Sungai Hoang-ho, di Mesir terdapat di Sungai Nil, dan sebaginya. Di Indonesia kebudayaan tertua banyak juga terdapat di sekitar sungai seperti; pada masa pra-sejarah di lembah Sungai Bengawan Solo, masa Hindhu-Budha terdapat di Sungai Mahakam (Kutai), Sungai Citarum (Tarumanagara), Sungai Progo (Dinasti Sanjaya dan Saelendra di Jawa- Tengah), Sungai Brantas (Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan-kerajaan lainnya di Jawa-Timur), dan sebagainya. Ini membuktikan begitu pentingnya peranan air demi kelangsungan hidup manusia sejak dahulu. Sesuai dengan kemampuan tingkat berpikir manusia, bahwa sejak pra-sejarah mereka sudah mengenal dan menyadari akan pentingnya peranan air. Karena itu berdasarkan pandangan Robert Von Hiene Gelderen,bahwa bangsa Indonesia sejak jaman megalithik sudah mengenal unsur-unsur kebudayaan yang penting, diantaranya, menanam padi, memiliki alat-alat pemotong padi. Senada juga dengan pandangan Brandes, bahwa dari sepuluh unsur kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia salah satu diantaranya adalah sudah mengenal menanam padi sawah (Wiryosuparto, 1958:2-40. Bahkan berdasarkan kronik cina tahun 132 M, disebutkan nama Yawadwipa dengan raja-nya bernama Dewawarman yang mengirimkan utusan ke Cina. Nama Yawadwipa dikenal juga dengan nama Pulau Jelai, Pulau Jawawut, yang dimungkinkan nama ini identik dengan nama padi(Wojowasito, 1952,25).Ada juga yang mengatakan bahwa nama Pulau Jawa identik dengan pulau emas (Javadvipa), seperti Sumatra (Svarnabhumi). Emas yang dimaksudkan disini adalah emas hijau yaitu hasil-hasil perkebunan dan pertanian yang harganya setaraf emas sebagai logam mulia.

Pertanian Sawah Masa Klasik di Jawa Timur
Sejarah klasik Bali secara utuh tidak dapat dilepaskan dari sejarah pulau Jawa. Begitu juga secara politik peranan Sumatra  dibawah Kerajaan Sriwijaya tidak dapat dilepaskan terhadap peristiwa sejarah di Pulau Jawa. Jadi pergeseran pengaruh dari arah barat (Sriwijaya) ke arah timur sampai di Pulau Bali membawa berbagai macam dampak budaya. Ini berdasarkan temuan-temuan prasasti yang sudah diterbitkan. Bermula dari prasasti Kota Kapur (686 M) tentang perluasan kekuasaannya ke pulau Jawa yaitu dengan menundukkan To-lo-mo (Tarumanagara). Kemudian terjadi pelarian ke Jawa-Tengah ditandai dengan berdirinya Dinasti Sanjaya berdasarkan prasasti Canggal berangka tahun 732 M (Muljana, 1980:5-6). Menurut Casparis, di Jawa-tengah juga terjadi konflik antara Dinasti Sanjaya dengan Saelendra yang menyebabkan terjadi perpindahan ke Jawa-Timur yaitu ditandai dengan munculnya Kerajaan Kanjuruhan yang terdapat di Kota Malang (Purbatjaraka, 1976:92). Dari Jawa-Timur terjadi lagi perpindahan ke Bali berdasarkan prasasti Sukawana I, dan inilah diperkirakan sebagai bukti awal pengaruh Jawa ke Bali dengan segala budaya yang dimiliki, kemudian semakin menyempurnakan budaya setempat termasuk dalam teknologi pertanian (Goris, 1948, 3).
Sejak abad ke IX sudah terjadi imigrasi secara besar-besaran dari Jawa ke Bali sampai abad ke XVI yang sangat terkait dengan kedatangan Islam pada masa Kerajaan Majapahit(Rebequqin, 1958:240-241). Pada saat inilah diperkirakan terjadi perkembangan pertanian sawah yang dikelola oleh lembaga Subak yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari sawah kering atau tegalan yang sebelumnya dimungkinkan pernah

PENJELASAN PRASASTI HULU DAYEUH

Sejarah Jawa Barat hingga kini memang masih agak gelap, bila
dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Oleh karena itu
setiap temuan arkeologi dari Jawa Barat senantiasa mengundang
perhatian dan rasa penasaran para pakar kebudayaan yang menggumuli
masalah sejarah Sunda (Jawa Barat).
     Untuk itu saya mengemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan
Prasasti Hulu Dayeuy yang diungkapkan oleh Bapak Muchtar MS (Kepala
Seksi Kebudayaan, Kndep Dikbud Cirebon) kepada wartawan yang telah
dimuat beberapa waktu lalu dalam Kompas, Selasa 31 Desember
1991 (pada halaman 12, kolom 1-3).
     Prasasti Hulu Dayeuh tersebut bukan berasal dari (Predu)
Ratudewata, tetapi kemungkinan ada hubungannya dengan Jayadewata
(Raja Pakwan-Pajajaran abad ke-15 Masehi). Raja ini sama dengan Sri
Baduga Maharaja atau Raden pamanah Rasa alias Sang Udubasu di dlam
Carita Parahiyangan, sesuai dengan yang disebutkan dalam rasasti
Hulu Dayeuy itu sendiri (baris ke-11). Tetapi belum berarti bahwa

HISTORIOGRAFI ASIA TENGGARA

 Historiografi atau penulisan sejarah dalam ilmu sejarah merupakan titik puncak seluruh kegiatan penelitian sejarah. Dalam metodologi sejarah, historiografi merupakan bagian terakhir. Langkah terakhir, tetapi langkah terberat, karena di bidang ini letak tuntutan terberat bagi sejarah untuk membuktikan legitimasi dirinya sebagai suatu bentuk di siplin ilmiah[1].
Historiografi pragmatis, dimana orang ingin menarik pelajaran untuk kepentingan praktek. Obyektivitas menjadi sasaran utama. Motif – motif pembuatan di kaji seteliti – telitinya dan mencoba memberikan hubungan kasual pada peristiwa – peristiwa sejarah. Obyektivitas merupakan puncak usaha bila hendak membuat karya sebagai ktema es aei, harta segala zaman[2].
Historiografi tidak terlepas dari data – data yang mendukung guna penulisan sejarah. Historiografi merupakan usaha pendataan sumber – sumber yang telah tersedia terhadap kajian – kajian kritis yang ada. Metode – metode dan pendekatan – pendekatan yang di dapat atau telah terbukti di manfaatkan untuk mempelajari bahan – bahan dan terhadap masalah teoritis yang berkaitan dengan penulisan sejarah.
Historiografi Asia Tenggara ini merupakan kumpulan tulisan dari orang Eropa Barat, Asia, dan amerika yang masing – masing dengan latar belakang kebudayaan dan tradisi ilmunya sendiri. Yang terpenting dalam penulisan sejarah Asia Tenggara, bilamana sejarawan dapat melepaskan diri dari kungkungan sumber – sumber Eropa Barat.
Penelitian oleh sarjana – sarjana Asia yang semakin bertambah jumlahnya selama dua puluh tahun yang lalu, nampaknya akan membawa perubahan yang luar biasa atas pandangan N.J. Krom mengenai sejarah Jawa lama. Lalu mengenai inskripsi – inskripsi yang melimpah di Burma, Tiongkok, India atau Barat. Karya Krom yang monumental mengenai “ Hindoe-Javaanche Geschiedenis “ benar – benar berada dalam karya yang populer. Perubanah baru secara revolusioner yang terjadi di Asia Tenggara sejak perang dunia kedua tak dapat dihindarkan untuk mengadakan penelitian ulangt tentang konsepsi – konsepsi lama mengenai sejarahnya dan mencobakan suatu pandangan yang berorentasi ulang. 
Berg mempelajari literatur sejarah Indonesia dengan meletakkan suatu metode pendekatan interpretasi, ia mampu akan memberikan hasil yang patut dipercaya. Ia menjelaskan bahwa kita perlu mengetahui sejarah tertulisnya rakyat sebagai unsur pola kebudayaan. Kesusastraan Rakyat Asia Tenggara tidak terlepas dari peristiwa  - peristiwa sejarah atau berbentuk babad.
Selama abad 19 dan 20 terdapat tiga bidang historiografi Asia Tenggara. Pertama, sejarah kuno. Ini kurang dikenal penduduk asli, serta diungkapkan oleh para filolog, epigraf, dan arkeolog. Kedua, sejarah kolonial. Perdagangan, perang, perjanjian menjadi perhatian khusus bagi orang Eropa. Ketiga, periode tengan. Sekitar abad 4-10, sebelum abad 19. merupakan zaman penulisan sejarah penduduk asli. Konsep dasar sejarah ilmiah telah sampai di Asia Tenggara tentang pentingnya batasan waktu, tempat, pengetahuan masa lampau harus sekuler dan humanistis. Serta fakta dan interpretasi sejarah harus selalu di uji dengan metode ilmiah.

EPIGRAFI DAN HISTORIOGRAFI INDONESIA
Berg mengenai nilai - nilai sumber – sumber asli Indonesia, khususnya dari Jawa dalam historiografi Indonesia dengan mempelajari nilai kidung sebagai sumber sejarah. Selain itu Berg juga menggunakan sumber lain seperti sastra dan prasasti. Sumber sejarah seperti Nagarakertagama dan paparaton, kidung, babad, dan karya sastra lainnya seperti prasasti dianggap sebagai hasil budaya Indonesia. Sehingga dalam memakai sumber ini harus sesuai dengan jiwa Indonesia dan dipakai secara sintipikal.
Istilah prasasti merujuk pada sumber – sumber sejarah zaman kuno yang ditulis diatas batu atau logam. Prasasti dibuat kebanyakan dibuat atas perintah atas penguasa diberbagai wilayah di Indonesia sejak abad 5. prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta, Melayu Kuno, Bali Kuno, atau Arab. Kebayakan masih perlu dipelajari secara rinci, sebab meskipun sudah banyak dibaca, tetapi banyak juga yang sampai saat kini hanya

SEJARAH ANJUNGAN JAWA BARAT

-          KEBERADAAN ANJUNGAN JAWA BARAT TMII
Pemerintah membangun Anjungan Jawa Barat TMII untuk memperkenalkan potensi daerah Jawa Barat kepada seluruh masyarakat Indonesiawisata
-          STRUKTUR BANGUNAN TRADISIONAL
Memasuki halaman Balai Pengelolaan Anjungan Jawa Barat TMII dapat dilihat sebuah Eye Catcher, yang menampilkan lambang Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan 2 buah kujang, yakni senjata tradisional Jawa Barat.
Selain bangunan inti terdapat pula contoh rumah tradisional yang berbentuk rumah panggung dengan dinding bilik/gede yang dilengkapi dengan peralatan rumah tangga yang terbuat dari bambu.
Di bagian lainnya terdapat sebuah kolam air terjun dengan panorama Tangkuban Perahu dan pesawahan mini yang menggambarkan keindahan alam Jawa Barat. Untuk pementasan kesenian tradisional Jawa Barat khusus dibangun sebuah panggung kesenian.
Bangunan Balai Pengelolaan Anjungan Jawa Barat di TMII merupakan replika dari bangunan  keraton Kasepuhan Cirebon. Model ini diabadikan sebagai data otentik baik bangunannya maupun seni budayanya yang mempunyai latar belakang sejarah.
Sesuai dengan bangunan aslinya bangunan Balai Pengelolan Anjungan Jawa Barat di TMII terdiri dari beberapa bangunan yang kini dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan berbagai aspek budaya Jawa Barat, antara lain :
  1. Bangunan Inti, yang terdiri dari :
-       Ruang Jinem Pangrawit / Pendopo di gunakan sebagai tempat berkumpul para ponggawa dan prajurit yang sedang bertugas, fungsi seksrang sebagai pementasan kesenian musik ilustrasi dan berbagai kegiatan pameran peragaan kerajinan
-       Ruang/Bangsal Pringgodani, sebagai tempat Sultan mengadakan pertemuan dengan para stafnya, fungsi sekarang sebagai tempat pameran kerajinan dari Jawa Barat dan digunakan pula untuk latihan kesenian.
-       Ruang/Bangsal Prabayaksa sebagai tempat Sultan menerima tamu penting, fungsi sekarang sebagai tempat pameran kerajinan se Jawa Barat, pakaian tradisional Jawa Barat serta tempat aat musik tradisional (Gamelan)
-       Ruang/Bangsal Panembahan, ruangan ini tempat Sultan bekerja dan beristirahat di siang hari, ruangan ini ditata sesuai dengan asli Cirebon.
  1. Ajeng, bangunan yang terletak paling depan. Digunakan sebagai tempat penyajian kesenian untuk menyambut tamu-tamu penting, fungsi sekarang sebagai tempat penyajian musik selamat datang
  2. Lunjuk, bangunan ini digunakan para tamu untuk melapor kedatangannya dengan berbagai keperluan di keraton,  fungsi sekarang sebagai kantor dinas kepala Anjungan
  3. Srimenganti, bangunan inimerupakan ruang tunggu, digunakan untuk para tamu menunggu kesempatan menyelesaikan segala kepentingannya dan tempat Sultan menyaksikan berbagai kegiatan adapun fungsi sekarang sebsgsi tempat kegiatan administrasi Tata Usaha
  4. Langgar Alit, bangunan ini adalah ruang tempat beribadah, digunakan sebagai kegiatan keagamaan oleh kelurga sultan adapun fungsi sekarang sebagai tempat sembahyangpara pengunjung
  5. Jinem Arum, ruang pertemuan. Bangunan ini dipergunakan oleh keluarga untuk mengadakan pertemuan kekuarga sultan adapun fungsi sekarang sebagai kantin yang menyajikan   berbagai makanan khas Jaw Barat
  6. Kaputren, bangunan ini dipergunakan sebagai tempat tinggal putri sultan, sekarang berfungsi sebagai ruang audiovisual dan perpustakaan
  7. Kaputran, banguna ini diperguanakan sebagai tempat para putra sultan adapun sekarang dipergunakan

Babad Tanah Jawi, Babon Tanah Jawa

Babad Tanah Jawa/Jawi yang ditulis oleh carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III ini,.merupakan karya sastra sejarah dalam  berbentuk tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan jaman  Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di  tanah Jawa. Akan tetapi siapapun yang kesengsem memahami  Babad Tanah Jawi ini harus bekerja keras menafsirkan setiap data yang dituliskan. Maklum seperti babad lainnya ,selain bahasanya yang jawa kuno ,perihal  mitosnya cukup banyak
Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram, yang juga unik dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam.
Silsilah raja-raja Pajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat. Berikutnya Majapahit, Demak, terus berurutan hingga sampai kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18.
Tidak dapat dipungkiri buku ini menjadi salah satu babon rekonstruksi sejarah pulau Jawa. Namun menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis. Dan lebih repot lagi, Babad Tanah Jawi ini punya banyak versi!
Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, kalau mau disederhanakan, keragaman versi itu dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja ini lah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1722.
Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.
Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain ahli sejarah HJ de Graaf. Menurutnya apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai jaman Kartasura di abad 18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita selepas era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah: terlalu sarat campuran mitologi, kosmologi, dan dongeng.

Selain Graaf, Meinsma berada di daftar peminat Babad Tanah Jawi. Bahkan pada 1874 ia menerbitkan versi prosa yang dikerjakan oleh Kertapraja. Meinsma mendasarkan karyanya pada babad yang ditulis Carik

SEJARAH ORARI DAERAH JAWA TIMUR

Menulusuri perjalanan waktu , kegiatan amatir radio di Jawa Timur sudah bisa dilacak balik sampai era penjajahan Belanda , atau tepatnya zaman pemerintahan Hindia Belanda.
Tahun 1930 –an , pada masa pemerintahan Hindia Belanda ( Negerland Indies ) Amatir Radio Indonesia telah membentuk Organisasi NIVERA ( Nederlands Indische Vereniging Radio Amateurs ) , merupakan organisasi  amatir radio pertama di Indonesia , banyak amatir radio di Daerah Jawa Timur yang bergabung dengan terbukti di situs TOM ROSCOE ( K8CX ) yang menyimpan koleksi QSL Card langka dari berbagai penjuru  dunia bisa dijumpai QSL Card dari beberapa kota di Jawa Timur seperti :

·         J . H . Makking         ( PK3BQ ) dari PG. Probolinggo
·         J . A . Fickel            ( PK3CK ) dari Surabaya
·         Henry N. Spohr        ( PK3EJ )  dari East Java
·         A . J . Frommelt       ( PK3JF ) dari Surabaya
·         J .  H . Briet             ( PK3JT ) dari Wonokitri Blvd
·         L.Th.E.De Sevren Jacquet  ( PK3SJ ) dari Surabaya
·         J . J . Smith             ( PK3SM ) dari  Surabaya
Tahun 1960 –an , seperti juga di kota-kota atau daerah lain , di Surabaya dan sekitarnya sudah banyak bermuculan , tukang radio , mahasiswa elektro , operator radio / PHB , atau mereka yang berhasil merakit sendiri radio / pemancarnya .
Untuk mencoba pancarannya , biasanya pada siang hari hanya dipakai siaran hanya sekedar untuk memutar lagu-lagu saja dan pada malam harinya dipakai untuk radio chek , atau calling satu sama lain.
Salah satu diantara mereka yang masih sehat wal afiat pada saat penulisan sejarah ini adalah  Walujo Wahyudi ( YB3AH ) mahasiswa pada fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ( mendirikan Radio Aesculap di kampusnya )
Mengapa dimulai dari Surabaya ? selain merupakan ibukota Jawa Timur , di Surabaya ada Pasarturi dan Jalan Demak – yang merupakan  pasar dan gudangnya barang – barang loakan berupa komponen elektronika yang menjadi barang buruan rekan-rekan amatir radio dari Surabaya dan sekitarnya.
Jaman itu adalah merupakan suatu kebanggaan tersendiri apabila ada yang bisa mendapatkan barang  yang aneh /langkah dengan harga murah , yang kemudian bisa dimanfatkan secara optimal untuk homebrewing peralatan di studio atau ham-shack masing-masing.
Hendro Sukaton , kebetulan menemukan roksokan pemancar sisa-sisa militer Belanda di gudang pabrik gula di daerah Kediri , dengan arahan seorang montir radio ( dari Toko AS Kediri ) bersama Bambang Yudho ( YC3GLV ) roksokan mereka rakit ulang sehingga bisa memancar kembali – dan akhirnya menjadi cikal bakal kegiatan amatir radio di Kediri dan sekitarnya.
Karena merasa bukan radio milik pemerintah ( seperti RRI atau beberapa stasiun radio siaran milik pemda ) , sedangkan istilah radio siaran niaga belum dikenal – ada di antara mereka yang kemudian menyebut stasiunnya dengan istilah Radio Amatir ( RADAM ) atau radio Eksperimen ( RADEKS ) .








Adanya langkah – langkah penertiban dari pihak otoritas ( keamanan ) kemudian mendorong mereka yang mengkhususkan kegiatannya di bidang komunikasi 2-arah untuk mendaftarkan diri dan bergabung dalam organisasi amatir radio PARI ( Persatuan Amatir Radio Indonesia ) yang pembentukannya di bidani beberapa rekan seperti Soekarsono (mahasiswa ITS Elekrto ) dan Puthu Surawijaya ( YB3AE ) , para pendaftar angkatan pertama mendapatkan nama panggilan dengan prifek PK3 ( Contoh : Bambang Sudiono – PK3UAC , Bambang Soetrisno – PK3UYF , Hadiono Badjuri – PK3UGB )


Jumat, 06 Januari 2012

RATU KALINYAMAT : RATU JEPARA YANG PEMBERANI

Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian "gagah berani" seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang seorang wanita yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa. Di samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).
Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang penting peranannya pada abad ke-16. Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia menjadi tokoh sentral yang  menentukan dalam pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah  putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.
Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka. Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa. Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).
Uraian singkat di bawah ini akan menjelaskan tentang :
1.         Siapakah tokoh Ratu Kalinyamat?
2.         Bagaimana riwayat hidup Ratu Kalinyamat?
3.         Bagaimana peranan Ratu Kalinyamat dalam sejarah Indonesia sehingga ia dipandang sebagai tokoh yang besar jasanya bagi bangsa Indonesia?

B. SIAPA TOKOH RATU KALINYAMAT?
Sejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama  Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa. Dalam  sejarah dinasti Demak, tokoh Ratu Kalinyamat mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu mengalami kemerosotan akibat konflik perebutan tahta. Popularitasnya jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangeran Hadiri,  bahkan Sultan Prawata, raja Demak ke empat.
Ratu Kalinyamat adalah putri Pangeran Trenggana dan cucu Raden Patah, sultan Demak yang pertama.Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Retna Kencana yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.  Retna Kencana kemudian  tampil sebagai tokoh sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan Demak. Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi  yang diperhitungkan sama dengan 10 April 1549. Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz menyebutkan bahwa Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.