Peninggalan kebudayaan tertua dari bangsa-bangsa di dunia pada umumnya terdapat di tepi-tepi sungai (air), karena di daerah tersebut sebagai daerah yang subur. Di daerah inilah terdapat aktivitas manusia sehingga banyak diketemukan berbagai hasil kebudayaannya, seperti kebudayaan India terdapat di lembah Sungai Indus, Gangga, di Mesopotamia terdapat di Sungai Euphrat dan Tigris. di Cina terdapat di di Sungai Hoang-ho, di Mesir terdapat di Sungai Nil, dan sebaginya. Di Indonesia kebudayaan tertua banyak juga terdapat di sekitar sungai seperti; pada masa pra-sejarah di lembah Sungai Bengawan Solo, masa Hindhu-Budha terdapat di Sungai Mahakam (Kutai), Sungai Citarum (Tarumanagara), Sungai Progo (Dinasti Sanjaya dan Saelendra di Jawa- Tengah), Sungai Brantas (Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan-kerajaan lainnya di Jawa-Timur), dan sebagainya. Ini membuktikan begitu pentingnya peranan air demi kelangsungan hidup manusia sejak dahulu. Sesuai dengan kemampuan tingkat berpikir manusia, bahwa sejak pra-sejarah mereka sudah mengenal dan menyadari akan pentingnya peranan air. Karena itu berdasarkan pandangan Robert Von Hiene Gelderen,bahwa bangsa Indonesia sejak jaman megalithik sudah mengenal unsur-unsur kebudayaan yang penting, diantaranya, menanam padi, memiliki alat-alat pemotong padi. Senada juga dengan pandangan Brandes, bahwa dari sepuluh unsur kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia salah satu diantaranya adalah sudah mengenal menanam padi sawah (Wiryosuparto, 1958:2-40. Bahkan berdasarkan kronik cina tahun 132 M, disebutkan nama Yawadwipa dengan raja-nya bernama Dewawarman yang mengirimkan utusan ke Cina. Nama Yawadwipa dikenal juga dengan nama Pulau Jelai, Pulau Jawawut, yang dimungkinkan nama ini identik dengan nama padi(Wojowasito, 1952,25).Ada juga yang mengatakan bahwa nama Pulau Jawa identik dengan pulau emas (Javadvipa), seperti Sumatra (Svarnabhumi). Emas yang dimaksudkan disini adalah emas hijau yaitu hasil-hasil perkebunan dan pertanian yang harganya setaraf emas sebagai logam mulia.
Pertanian Sawah Masa Klasik di Jawa Timur
Sejarah klasik Bali secara utuh tidak dapat dilepaskan dari sejarah pulau Jawa. Begitu juga secara politik peranan Sumatra dibawah Kerajaan Sriwijaya tidak dapat dilepaskan terhadap peristiwa sejarah di Pulau Jawa. Jadi pergeseran pengaruh dari arah barat (Sriwijaya) ke arah timur sampai di Pulau Bali membawa berbagai macam dampak budaya. Ini berdasarkan temuan-temuan prasasti yang sudah diterbitkan. Bermula dari prasasti Kota Kapur (686 M) tentang perluasan kekuasaannya ke pulau Jawa yaitu dengan menundukkan To-lo-mo (Tarumanagara). Kemudian terjadi pelarian ke Jawa-Tengah ditandai dengan berdirinya Dinasti Sanjaya berdasarkan prasasti Canggal berangka tahun 732 M (Muljana, 1980:5-6). Menurut Casparis, di Jawa-tengah juga terjadi konflik antara Dinasti Sanjaya dengan Saelendra yang menyebabkan terjadi perpindahan ke Jawa-Timur yaitu ditandai dengan munculnya Kerajaan Kanjuruhan yang terdapat di Kota Malang (Purbatjaraka, 1976:92). Dari Jawa-Timur terjadi lagi perpindahan ke Bali berdasarkan prasasti Sukawana I, dan inilah diperkirakan sebagai bukti awal pengaruh Jawa ke Bali dengan segala budaya yang dimiliki, kemudian semakin menyempurnakan budaya setempat termasuk dalam teknologi pertanian (Goris, 1948, 3).
Sejak abad ke IX sudah terjadi imigrasi secara besar-besaran dari Jawa ke Bali sampai abad ke XVI yang sangat terkait dengan kedatangan Islam pada masa Kerajaan Majapahit(Rebequqin, 1958:240-241). Pada saat inilah diperkirakan terjadi perkembangan pertanian sawah yang dikelola oleh lembaga Subak yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari sawah kering atau tegalan yang sebelumnya dimungkinkan pernah